Studi Bersama Keluarga di India “Perjuangan, Kemandirian & Keyakinan”

15541185_10211332567447844_6923859058961981421_n

Tentu sudah menjadi suatu yang biasa jika kita berstudi di luar negeri dengan status single atau belum menikah, segala hal bisa dilakukan dengan sesuai keinginan kita dari waktu, tenaga hingga uang. Namun kira-kira apa yang terjadi jika kita berstudi di luar negeri dalam hal ini New Delhi, India dengan membawa serta keluarga kecil kita terlebih dengan biaya sendiri (self finance) alias kuliah tanpa beasiswa. Melalui tulisan ini, semoga pengalaman kami beserta keluarga dapat menjadi pengetahuan yang bermanfaat kelak bagi teman-teman yang mungkin akan mengalami hal yang sama.

Sebelumnya saya telah merasakan menjadi mahasiswa berstatus single saat masih menempuh studi S2 (M.A)  Ilmu Hubungan Internasional, di Jawaharlal Nehru University (JNU), New Delhi. Tentu dalam kondisi ini saya sangat leluasa untuk mengisi waktu sesuka hati tanpa ada tanggungjawab lebih atau beban hidup lain yang harus saya pikirkan alias bisa benar-benar fokus melakukan studi dan kegiatan keorganisasian secara leluasa. Selepas masa studi M.A. tersebut, alhamdulillah saya telah diizikan untuk melepas masa lajang saya dengan menikah, tentu ini menjadi kebahagiaan tersendiri dan mulai merubah kehidupan saya dengan status seorang suami (belum memiliki anak). Disaat yang sama, yaitu saat studi M.A. saya telah usai pada Mei 2015, ada keinginan serta dorongan untuk terus melanjutkan studi saya pada jenjang M.Phil hingga Ph.D pada jurusan dan kampus yang sama, dimana proses ujian tertulis telah saya ikuti sebelum kepulangan ke Indonesia. Dan sebuah kabar gembira sekaligus sedih datang saat berada di Tanah Air, saya mendapatkan pengunguman bahwa saya telah lolos untuk melanjutkan studi pada tingkat M.Phil selama 2 tahun sebelum nantinya melanjutkan ke program Ph.D selama 3-4 tahun. Mau tidak mau saya harus meninggalkan kembali Indonesia untuk melakukan registrasi yang cukup mepet guna melanjutkan studi ini, bahkan meninggalkan istri yang notabenya masih kurang satu bulan menikah, tentu ini hal ini bukanlah hal mudah dan harus saya lakukan demi masa depan kelak.

Akhirnya, saya memutuskan berangkat sendiri terlebih dahulu ke India untuk melakukan registrasi program M.Phil, dimana istri saya masih berada di Indonesia dan baru dijadwalkan menyusul pada bulan Oktober 2015. Tepat sebelum keberangkatan istri saya ke India, saya kembali mendapatkan kabar bahagia yang bercampur kekhawatiran (sebab sebagai mahasiswa tanpa pekerjaan tetap dan beasiswa tentunya), sebab istri saya ternyata telah hamil memasuki bulan pertama. Rencana pun tetap bulat untuk istri saya menyusul bulan Oktober 2015 dan dengan kedatangan istri saya di India, tentu saya harus mempersiapkan segalanya termasuk tempat tinggal yang layak beserta isinya yang sederhana, mengingat saya bukanlah mahasiswa yang mendapatkan beasiswa namun mahasiswa self finance atau kuliah dengan biaya sendiri, tentu menjadi tantangan dan tanggungjawab saya selain menuntut ilmu yaitu mencari nafkah untuk keluarga mengingat kiriman orangtua berangsur-angsur tidak bisa diandalkan (satu juta rupiah) karena hanya cukup untuk standar hidup mahasiswa lajang dengan gaya hidup sederhana.

Berada pada tingkat M.Phil selama dua tahun studi, terlebih istri yang sedang hamil bukanlah perkara mudah. Terlebih saya harus mempersiapkan biaya kelahiran anak pertama saya di India dengan biaya yang tidak sedikit. Membagi waktu antara kuliah, mencari nafkah dan berorganisasi tentu menjadi tantangan tersendiri. Selama masa pendidikan semester 1 dan 2 di M.Phil yang mewajibkan untuk hadir ke kelas menjadi tantangan tersendiri, disamping harus menjaga istri yang sedang hamil hingga periksa ke dokter tiap bulan hingga 1 pekan sekali saat mendekati proses persalinan. Saya rasa sulit dicerna akal, bagaimana mungkin mahasiswa yang aktif kuliah bisa sekaligus menjaga istri dan mendapatkan nafkah yang cukup untuk sehari-hari bahkan biaya persalinan yang cukup besar, semua ini bagi saya tidak lain atas pertolongan dan keyakinan kepada Tuhan. Yang saya lakukan, saya berusaha melaksanakan kewajiban kuliah sebaik-baiknya dan benar-benar tidak bisa berleha-leha membuang waktu secara sia-sia, bahkan pada saat deadline tugas hingga ujian, saya rela untuk belajar hingga dini hari. Adapun dalam hal menjaga dan memeriksa kehamilan istri tentu ini menjadi prioritas juga yang tidak dapat saya tinggalkan, beruntungnya semua waktu bisa teratur dimana kuliah di pagi hari dan waktu menjaga atau memeriksa kehamilan istri bisa di siang dan sore hari. Dalam hal mencari rezeki guna persiapan kelahiran putri pertama kami, saya sangat bersyukur ada pintu rezeki yang terbuka lebar saat itu untuk kami mengumpulkan uang, utamanya melalui jasa mengajar baca Al-Quran untuk para diplomat dan anak-anaknya dan pekerjaan sambilan lainnya, sungguh rezeki itu benar-benar Tuhan persiapkan bagi kita yang membutuhkan dan meyakininya. Bahkan jika saya mau jujur, selama 2 tahun saya di M.Phil bersama keluarga, kami bisa “survive” walaupun tidak ada pekerjaan tetap, pintu rezeki selalu ada terbuka. Disatu sisi di saat hari kelahiran itu datang, bantuan dari teman-teman sesama PPI India, diplomat dan para senior-senior di home based staff KBRI New Delhi sungguh sangat berarti. Semua inilah yang akhinrya proses persalinan istri lancar khususnya dalam hal finansial yang sebelumnya saya cukup khawatirkan.

Sejatinya, pasca persalinan istri yang saat ini melalui proses sesar menjadi tantangan tersendiri bagi saya, karena dia belum bisa beraktifitas secara normal, sehingga saya selama satu pekan penuh tiadak masuk kuliah agar bisa melakukan pekerjaan rumah dan merawat bayi seperti memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, hingga mengganti pokok si bayi, sungguh pengalaman yang luar biasa. Saya pribadi yakin, inilah cara terbaik Tuhan untuk mengajarkan kami akan kehidupan serta hidup mandiri agar kami tumbuh menjadi keluarga yang kuat. Menjadi seorang ayah tentu cukup berbeda dengan menjadi seorang suami (yang belum mempunyai anak) dimana saya tidak bisa hanya memikirkan diri sendiri atau istri semata, namun kebutuhan si bayi mulai dari popok, vitamin, imunisasi, pakaian, makanan hingga interaksi antara anak dan ayah harus benar-benar diberikan haknya. Tentu ini adalah titipan amanah yang sangat besar bagi saya yang harus di jaga dan di pertanggungjawabkan dalam keseharian. Dalam mengatur semua ini, saya harus bisa memilih mana prioritas antara keluarga dan studi, namun saya selalu mengusahakan keduanya bisa berjalan secara berdampingan dan alhamdulillah selama 2 tahun di M.Phil semua ini dapat terwujud.

Secara spesifik, saya akan mencoba menyampaikan beberapa tips bagi teman-teman yang ingin membawa keluarga (istri & anak) untuk studi di India, diantaranya:

1. Persiapan Menuju India

  • Pastikan sebelum ke India, keluarga Anda memahami kondisi yang berbeda antara Indonesia dan India khususnya dalam konteks bagi yang berstudi di India Utara seperti di New Delhi, Lucknow, Aligarh dll seperti dalam hal cuaca (ekstrem panas & dingin), budaya sopan santun, makanan,  dll.
  • Jika Anda seorang suami, pastikan keluarga Anda mendapatkan visa berupa “Dependent visa” atau “X-Entry visa” saat mendaftar di kedubes/konsulat India di Jakarta bagi yang ingin menetap lebih dari 6 bulan agar bisa diperpanjang saat berada di India & biaya tidak membengkak. Jangan sampai keluarga kita mendapatkan “Tourist visa” karena maksimal hanya berlaku 6 bulan dan tidak bisa diperpanjang.
  • Pastikan Anda telah mempersiapkan tempat tinggal yang layak dimana dapur dan kamar mandi tersedia khusus bagi keluarga Anda (alias tidak sharing dengan penguni kost lainnya) dan tentunya tersedia air 24 jam. Jika perlu, carilah tempat tinggal yang dekat dengan para mahasiswa Indonesia lainnya agar istri atau anak Anda bisa berinteraksi dengan WNI lain agar tidak kesepian. Carilah tempat yang strategis/dekat dengan kampus, warung, tempat penjualan sayur, galon & lingkungan kontrakan/kost yang aman (ada CCTV & penjaganya).
  • Alat komunikasi dari smartphone Anda sangat penting saat Anda berada jauh dari keluarga, persiapkan sim card untuk hp istri Anda (sebelum dia sampai di India dengan menggunakan data paspor & visa Anda tidak masalah) dan jika memungkinkan berlangganan Wifi agar lebih hemat dan cepat.
  • Persiapakan isi kost/kontrakan yang sesuai kebutuhan rumah tangga seperti peralatan-peralatan dapur, tempat tidur, kamar mandi.
  • Bawalah obat-obatan dari Indonesia secukupnya karena di India memiliki obat yang cukup bagus dan rata-rata lebih terjangkau dari Indonesia, sehingga tidak perlu khawatir.

2. Bagi yang akan melahirkan anak di India

  • Pastikan saat istri Anda telah hamil untuk memiliki dokter ahli kandungan untuk pemeriksaan regular, biasanya para senior (jika ada) yang telah lama di India mengetahui langganan dokter kandungan. Ini sangat penting, karena dokter akan memberikan informasi kesehatan janin si bayi, memberikan vitamin bagi ibu hingga persiapan proses melahirkan, dll.
  • Persiapkan finansial Anda dan jangan khawatir selama Anda mau berusaha maka akan ada jalan.
  • 6-3 bulan sebelum melahirkan, pastikan Anda telah memboking Rumah Sakit swasta (karena RS Umum biasanya penuh dalam konteks New Delhi) agar biaya tidak membengkak dan persiapan maksimal. Biasanya rumah sakit akan meminta uang DP sekitar Rs 2000-3000. biaya total melahirkan kalau tidak salah untuk normal sekitar Rs 50,000-an dan untuk sesar Rs 70,000-an untuk RS swasta.
  • Persiapkan keperluan kelahiran seperti popok, minyak telon, baju bayi, pembalut bagi si ibu, dll.
  • Jangan lupa kabarkan para kawan-kawan PPI India dan para senior agar mendapatkan minimal dukungan moral.
  • Jika proses kelahiran selesai, maka pihak rumah sakit akan memberikan laporan detail info kelahiran bayi Anda mulai dari jenis kelamin, berat-tinggi badan, jam/tanggal lahir, dll serta akan membuatkan surat pengantar ke bagian administrasi pencatatan sipil India untuk dibuatkan akte kelahiran India (Anda diminta untuk memastikan nama lengkap anak Anda serta mengisi formulir). Untuk biaya print satu lembar akte kelahiran yang asli yaitu Rs 10-20, Anda bisa minta lebih dari satu lembar (lumayan sebagai kenangan hehehe).
  • Bagi Anda yang ingin anaknya menjadi WN Indonesia, segera mengurus akte kelahiran serta paspor di KBRI New Delhi atau Konsulat Jenderal di Mumbai.  Persyaratannya yaitu membuat surat pemohonan, mengisi formulir, fotocopy bukti laporan kelahiran (dari RS), pasfoto si bayi, paspor kedua orangtua, buku nikah kedua orangtua dan membayar biaya paspor sekitar Rs 1500. setelah paspor jadi, Jangan lupa dibuatkan visa dengan melapor ke kantor FRRO (keimigrasian) terkait.
  • Biasanya setelah anak lahir maka kita akan reguler melakukan imunisasi ke dokter anak, perlu diketahui bahwa standar imunisasi di India ada yang berbeda dengan Indonesia, maka ini perlu dikonsultasikan kepada dokter India terkait. Dan tentunya imunisasi di India tidak gratis seperti di Indonesia sehingga kita mengeluarkan biaya sekali imunisasi minimal sekitar Rs 1300.

3. Kehidupan sehari-hari di India

  • Perkenalkan keluarga (mininal istri) Anda untuk mengenal lingkungan sekitar agar mengetahui situasi dan kondisi masyarakat sekitar, terlebih jika kita berkenalan dengan tetangga dan masyarakat sekitar.
  • Ajarkan bahasa Hindi dasar (bagi yang di India Utara) seperti bahasa perkenalan, jual-beli dan terima kasih agar lebih nyaman berinteraksi dengan warga India.
  • Selalu menjaga hubungan baik dan tidak berbuat “macam-macam” kepada masyarakat sekitar yang dapat merusak hubungan kita bahkan membawa nama buruk Indonesia.
  • Ajaklah keluarga untuk berjalan-jalan dan mencicipi makanan khas India agar mengenal lebih jauh dan merasa nyaman selama di India.
  • Persiapkan pakaian-pakaian dan keperluan terkait terutama bagi si kecil untuk menghadapi musim dingin dan panas. Ingat, pada musim dingin apalagi saat puncak-puncaknya, Anda tidak perlu sampai mandi 1-2 kali sehari sebab tidak akan ada keringat. Anda bisa mandi bahkan dalam sepekan 1-3 kali saja.
  • Jika Anda bepergian apalagi di kota besar seperti New Delhi, gunakanlah masker, karena kondisi sangat berdebu, terutama di musim panas.

Mohd. Agoes Aufiya

Mahasiswa Program Ph.D

Jawaharlal Nehru University

(Editor: Nisa Paramadina)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*