Diskusi ATDIK & PPI India-New Delhi, Episode II

Diskusi ATDIK & PPI India-New Delhi, Episode II

~Berikut Inti Sari Hasil Diskusi Bersama Kepala Atase Pendidikan KBRI New Delhi, Prof. Iwan Pranoto Bersama PPI India-New Delhi:

• Manusia akan bisa hidup secara harmonis jika dia menerapkan budaya ilmiah. • Kebanyakan orang Indonesia haus akan hal-hal yang berbau ilmiah namun sayangnya kebanyakan orang Indonesia tidak bisa menerapkan budaya ilmiah, dan kebanyakan orang Indonesia memandang pengetahuan sebagai suatu kata benda (objek) maksudnya adalah sesuatu untuk dilihat, padahal pengetahuan ilmiah adalah suatu bentuk ‘kata kerja’ maksudnya adalah pengetahuan ilmiah merupakan sesuatu untuk dikerjakan (mengobservasi, meneliti, dll) • Di india pendidikannya sudah bermutu namun akibat adanya kasta sehingga banyak yang masih buta huruf. Dibandingkan di Indonesia, pendidikannya kurang bermutu karena guru-guru belum berkualitas. Misal di daerah terpencil satu guru mengajar semua mata pelajaran • Sebagai solusi untuk mengatasi problem pendidikan di pelosok Indonesia, teknologi seperti tablet,bisa dikatakan sebagai kunci masa depan bagi daerah pelosok. Karena lebih baik anak-anak belajar sendiri melalui internet dari pada belajar oleh guru yang tidak bekualitas dan teknologi itu memang seharusnya didesain sehingga bisa digunakan oleh kalangan bawah. Di India sudah diterapkan seperti pembuatan tab seharga 500 ribu untuk pelajar • Di pedalaman, internet merupakan suatu kebutuhan karena dengan internet para pelajar lebih mudah untuk mengakses pengetahuan, dan guru-guru di pedalaman juga kurang bermutu. Beda dengan di kota maju, internet merupakan suatu kemewahan karena di kota mau mereka tidak butuh internet untuk belajar karena guru-guru mereka sudah berkualitas. • Ujian nasional di Indonesia merupakan suatu bentuk penyetaraan bagi siswa. Padahal siswa itu tidak boleh disetarakan karena memang kemampuan tiap anak berbeda. Parameter pintar tidaknya seseorang bukan diliha dari nilai Matematika atau Fisika nya yang bagus. • Bandingkan :Pendidikan Di Pelosok VS Pendidikan di Kota Besar, kemampuan pelajar di pelosok dan kota besar sama-sama di standarkan dengan UNAS. • Seharusnya yang di standarkan adalah FASILITAS pendidikan bukan pelajarnya. 10609626_10204459090215209_5468390998079573868_n 10409708_10204459089775198_1793163550475667232_n 10425426_10204459089375188_3103942559951868558_n Silahkan teman-teman tanggapannya & masukkannya terkait intisari diskusi diatas ^^. Demikian, Terimakasih banyak. Salam Perhimpunan !!! Tanggal : 29 Agustus 2014 Hari : Jum’at Jam : 19.25 – 21.00 Tempat : (New Delhi, Safdarjang Enclave) Kediaman Prof. Iwan Pranoto Notulen : Siti Fathurrohmah (Koor. Divis Pendidikan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*