Mahasiswa Indonesia Sabet Juara 1 di Ajang Bergengsi IIT Delhi, India

 1922123_10152269291503979_2068792139_nNew Delhi– Sekali lagi, tinta emas telah mencatat sejarah cemerlang prestasi anak bangsa di Luar Negeri. Constantinus Satrio, mahasiwa Indonesia di India yang baru saja menyabet juara 1 dalam ajang lomba bergengsi TRYST (Annual Science, Technology and Management Festival of IIT Delhi) yang di helat di Indian Institue of Technology Delhi, New Delhi India pada tanggal 26 Februari sampai 1 Maret 2014. Karya mahasiswa Indonesia tahun  ketiga program studi Bachelor of Computer Application di Universitas Agra  ini bertemakan tentang “Manual Automatic Transmission Controller” yaitu sistem pengendalian transmisi sepeda motor yang bisa di kendalikan dengan dual mode yaitu mode manual yang sewaktu-waktu bisa diubah ke mode otomatis atau sebaliknya. Hal ini sangat cerdas, seperti yang dijelaskan oleh Satrio dalam presentasinya, ini sangat bermanfaat, ketika ada orang yang lebih cenderung suka menggunakan mode manual sedang mengalami gangguan otot, atau ada anggota keluarga lain yang sudah tua, yang sewaktu-waktu ingin menggunakan motor dalam mode otomatis. Tentu motor menjadi lebih fleksibel, efisien, karena ada saat-saat tertentu ketika motor lebih nyaman dalam mode manual dan ada kalanya dalam mode otomatis.

1016454_10152242851788979_570106931_n

 

Inovasi mahasiswa yang hobi memasak, balap motor, angkat besi, dan mengutak atik alat-alat elektro ini juga dinilai dari segi efisiensi, ekonomis, dan tentu memenuhi kerealistisan untuk di aplikasikan atau merupakan teknologi tepat guna. Satrio menjawab dengan konkrit dan lugas semua keraguan dewan juri pada saat sesi tanya jawab setelah ia dengan kancar mempresentasikan karyanya seperti yang ditampilkan di video rekaman presentasinya tersebut. Ada dua alasan teknis penting seperti yang dijelaskan Satrio dalam sesi wawancara dengan PPI India yaitu “1. Murah dan applicable : Karena desain yang disederhanakan, serta kontrol kopling dan karburator yang menggunakan solenoid meminimalkan jumlah komponen yang dipakai, karena tidak perlu throttle position sensor. Jumlah transistor penggerak daun karburator juga berkurang dari 4 buah menjadi 1 buah. Solenoid juga memungkinkan pemasangan transmisi ini tanpa merubah mesin, karburator, ataupun gearbox, hanya tinggal potong kabel gas, kopling, dan merubah sistem pengungkit transmisi dari luar gearbox. 2. Peningkatan efisiensi hingga 20% : Transmisi sepeda motor berbasis CVT mengalami rugi daya hingga 20%, sebab gesekan yang terjadi saat perpindahan rasio transmisi di karet penggerak. CVT juga rentan mengalami kerusakan mendadak jika dipergunakan untuk beban berat. Transmisi otomatis saya tidak mengalami rugi-rugi daya tersebut karena menggunakan gearbox manual yang dikontrol oleh motor listrik, serta kopling yang dikontrol solenoid, sehingga daya yang dipergunakan untuk perpindahan gigi hanya listrik dari alternator motor. Ketahanan dan reliabilitas transmisi otomatis juga meningkat, sebab karet CVT harus diganti secara berkala, sementara transmisi saya tidak memerlukan overhaul berkala jika tidak ada kerusakan pada sistem kontrol elektroniknya.”

Meskipun sempat tidak mendapatkan bantuan finansial dari pihak-pihak lain yang seharusnya diharapkan bisa membantu, Satrio secara mandiri mampu membuktikan sekaligus mencuri perhatian bahwa dia merupakan salah satu anak bangsa yang seharusnya mendapat perhatian khusus dari negara dengan menjuarai lomba tersebut. Sebenarnya di dalam negeri sendiri sudah ada program melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) oleh DIKTI. Namun menurut Atase Pendidikan KBRI New Delhi seperti yang dinyatakan dalam komentarnya “Sayangnya, mahasiswa kita yang ada di LN belum termasuk yg bisa dibiayai.. mudah2an saya bisa ketemu Dirjen Dikti untuk cari jalan keluar”.

1622771_10152242851748979_1524913770_nPemerintah Indonesia seharusnya harus peka dengan hal demikian. Tidaklah mengheranakan jika banyak putera puteri terbaik bangsa yang pada akhirnya membantu pihak asing. Ketika Negara banyak memberikan red tape bagi mereka, pihak asing akan mencuri kesempatan tersebut dengan memberi banyak fasilitas yang lebih memberi angin segar untuk mengembangkan karya-karya mereka.

Meskipun demikian, kemenangan pria kelahiran Jakarta tahun 1989 ini layaknya kemenangan bagi semua mahasiswa Indonesia terutama di India. Ucapan selamat tak henti-hentinya menghujani akun sosial media milik Satrio, mulai dari sahabat, alumni, pelajar, akademisi, pejabat, dan lain-lain.
1920608_10152269291258979_707960065_n

IIT Delhi sendiri merupakan universitas top bukan hanya di India, namun juga sedunia (bisa di cek di QS World Rank-Website acuan Erasmus Mundus) bersama dengan IIT Bombay yang masuknya berkali kali lipat lebih susah dari pada masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekalipun. Setelah melalui beberapa babak, Satrio berhasil lolos hingga ke final dan akhirnya menumbangkan seluruh lawan lawannya yang mayoritas mahasiswa IIT Delhi itu sendiri. Selain mendapat serifikat penghargaan, Satrio juga mengantongi  hadiah tunai sejumlah INR 75000 (sekitar 14 juta rupiah) yang ingin digunakannya untuk terus mengembangkan karyanya. Satrio berkeinginan untuk terus melanjutkan kuliahnya kejenjang lebih tinggi untuk menjadi seorang Profesor.

(Red: IT – PPI India)

2 comments

  1. dendy akad buldansyah

    Luar biasa satrio sangat layak menjadi pemuda teladan indonesia tahun 2014..smg cepat kembali ke indonesia utk membuat inovasi2 lainnya shg dpt mengharumkan nama bangsa..amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*