Kuliah di Mysore, India Selatan

IMG_0780

Beberapa bulan terakhir, saya lumayan direpotkan menjawab pertanyaan yang datang di medsos saya mengenai Mysore. Ada yang pertanyaannya sangat spesifik, seperti apa jurusan ini menyediakan program bahasa inggris? Atau pertanyaan umum seputar kota Mysore sendiri. Karena saya sudah hampir menyelesaikan semester tiga, artinya sudah 18 bulan saya menetap di sini. Saya pikir cukup untuk memberikan gambaran mengenai apa yang perlu dipertimbangkan bila punya rencana studi di Mysore. Jadi saya putuskan untuk membuat sedikit ringkasan mengenai studi di Mysore.

            Kota Mysore sendiri adalah kota terbesar kedua di state Karnataka, India Selatan.  Populasinya tidak sepadat kota-kota lainnya di India. Pun dengan kebersihannya yang jauh lebih bersih dari kota-kota lain di India. Nggak heran sebenarnya karena pada 2016 Mysore mendapat predikat kota terbersih di India. Nah, tapi meski nggak termasuk kota besa, karena tidak ada starbucks di sini, tapi Mysore termasuk menjadi jujukan study mahasiswa asing. Karena punya banyak kampus yang menyediakan kelas berbahasa inggris. Salah satunya, yang menjadi kampus jujukan anak beasiswa ya apalagi kalau bukan tempat saya sekolah, University of Mysore (UoM). Karena UoM ini kampus pemerintah tentunya. Nah, berikut adalah Frequently Asked Questions yang saya rangkum berdasarkan, tentunya pertanyaan yang sering diterima.

Apakah Jurusan ‘A’ Bagus di Mysore?

Banyak sekali yang spesifik menanyakan soal jurusan. Apakah ada jurusan ini, apakah jurusannya bagus, apakah ini itu… dan biasanya saya akan jawab setahu saya. Untuk lebih detailnya, bisa dicek sendiri di http://www.uni-mysore.ac.in/ Jadi sebelum memutuskan Mysore sebagai pilihan pertama saat mendaftar beasiswa ICCR, saya juga sering mengecek website tersebut. Melihat syllabus yang disediakan, profil para pengajar, dan lainnya. Saat itu saya sebenarnya tertarik untuk mendalami new media seperti social media (FYI, saya kuliah S2 jurusan Mass Communication & Journalism). Saat itu kebetulan juga saya punya senior di tempat kerja yang resign dan kuliah menggunakan beasiswa ICCR di jurusan yang sama dan kampus yang sama. Saya banyak bertanya mengenai bagaimana perkuliahan di Mysore. Saya kira saya cocok. Apalagi dari awal saya berencana mencari kota kecil yang kondusif untuk belajar. Jadi, banyak-banyaklah browsing, mencari apakah area ilmu atau konsentrasimu ditawarkan, dan yang lebih penting, apakah jurusan tersebut menawarkan program bahasa inggris. Untuk yang ini, kadang kita perlu bertanya langsung dengan email atau menelepon departement untuk memastikan. Karena sebagian kecil departement yang jurusannya tidak diminati foreigner biasanya tidak mempunyai program bahasa Inggris. Misalnya seperti jurusan antropologi, bahasa urdu, dan geografi. Jadi mereka menggunakan bahasa kannadiga untuk kegiatan belajar mengajar (bahasa kannadiga adalah bahasa lokal state karnataka).

 

Biaya Hidup

Sebelum ke India, saya juga tidak tahu bahwa biaya hidup di India lebih murah dibandingkan Indonesia. Ini menyangkut kebutuhan sehari-hari, pendidikan, dan transportasi. Untuk biaya pendidikan, mahasiswa asing (teman sekelas saya), hanya membayar sekitar 25 juta untuk dua tahun, tanpa tambahan biaya lainnya. Setiap jurusan beda nominal loh ya. Untuk kebutuhan pokok misalnya, satu plastik roti yang di Indonesia biasa dibandrol sekitar Rp 10-20 ribu, di India bisa kita dapatkan dengan harga separuhnya. Pun dengan susu, telur, cabai, kentang, dan lain lain. Wkwkwk untuk urusan kebutuhan pokok saya sampai hapal deh karena hampir setiap hari saya masak sendiri. Kenapa? Karena sulit sekali mencari makanan yang cocok dengan lidah saya. Di India hampir semua makanan dicampur bumbu masala. Bahkan bila kamu pergi ke restoran asia tenggara pun, rasanya masih ada rasa-rasa India-nya, hehe. Teman saya dari Vietnam sampai punya motto ’’Indian restaurant ain’t nothing but chicken biryani’’ wkwkwk. Maksudnya, semua restaurant di India punya typical rasa yang sama. Bahkan KFC-nya, nasinya pun nasi biryani :p. Itu untuk urusan perut. Untuk urusan transportasi juga, sejauh ini saya nyaman sih. Pelayanan pesawat domestiknya oke dan murah. Misalnya nih dari Bangalore ke Hyderabad atau ke Chennai, bila pesannya tidak mepet, kita bisa dapat harga Rp 250 ribu aja, hehe. Oh iya, ibukota state Karnataka itu Bangalore, sekitar 3 jam dengan kereta dari Mysore. Dalam satu bulan saya bisa 2 kali ke Bangalore untuk cari starbucks. Dan karena Bangalore adalah kota besar, sistem transportasinya sangat bagus. Stasiun kereta antar kota terintegrasi dengan terminal bus, metro. Pun bila mau ke bandara, bila ingin lebih hemat dari Mysore (ada bus bandara dari Mysore, harganya sekitar Rp 150 ribu sekali jalan). Bisa naik kereta dari Mysore ke Bangalore dan menyambung dengan bus bandara yang kalau ditotal bisa menghemat lebih dari seperduanya loh!

 

Perkuliahan

Nah ini bagian favorit saya. Materi-materi yang saya dapatkan di perkuliahan sangat membantu saya dalam menganalisis banyak fenomena yang terjadi di Indonesia. Dalam disiplin ilmu saya, yaitu Komunikasi Massa, materi yang saya dapatkan banyaaaak. Sebanyak materi yang harus dibaca, tugas yang dikerjakan, dan jenis ujian yang harus dijalani wkwkwk. Bikin capek memang, percayalah. Saya resign dari pekerjaan jurnalis untuk kuliah yang jurnalistik dan sama-sama dikejar deadline wkwkwk. Tapi seru lah, nanti kamu akan bangga kalau bisa melalui itu semua. Khususnya bagaimana bisa survive mengerjakan soal analisis menggunakan bahasa Inggris. Duh.. aslinya bahasa Inggris saya juga masih hancur kok. Saat berangkat ke India, skor TOEFL saya hanya 535 saja (skor TOEFL beasiswa ICCR bergantung jurusan yang diambil), namun percayalah nanti lama-lama ter-upgrade sendiri kok kalau sudah terbiasa mengerjakan tugas dan membaca diktat ujian berbahasa Inggris. Tapi yang paling penting, adalah inputnya setara. Asalkan kita juga benar-benar belajar loh ya. Karena hidup saya dipenuhi oleh buku, saya tidak bisa lepas dari perpus. Namun bila kamu bukan anak perpus, ada caranya menurut saya, yaitu belajar dari materi-materi yang diberikan dosen. Karena itu kuncinya!. Oh iya, untuk buku, jangan khawatir, kalau kamu dapat beasiswa ICCR, bakal ada suntikan dana per tahun untuk beli buku. Dan bagi pecinta buku, harus siap-siap ngontrol dompet karena buku di sini jauh lebih murah dibandingkan Indo. Bahkan kalau kamu mau hunting ke daerah khusus buku secondhand. Harganya bisa lebih dari 50 persen lebih murah!

 

Pergaulan

Sebelumnya begini, yang perlu dipahami dulu, saya adalah anak rumahan. Saya bukan anak cafe, anak traveller, atau anak gaul yang hobi menghabiskan waktu berjam-jam untuk ngobrol ngalur ngidul dengan teman-teman. Namun, saya suka bergabung dengan komunitas atau organisasi yang dimana saya merasa sevisi dengan komunitas tersebut. Sayangnya, di Mysore saya tidak atau mungkin belum menemukan yang seperti itu. Ada organisasi mahasiswa asing di Mysore, dan ketuanya sendiri adalah teman baik saya dari Guyana. Kami sama-sama awardee ICCR, dan saat kawan saya itu terpilih, dia sudah menawarkan saya untuk bergabung menjadi pengurus inti. Namun karena saya sudah melihat bagaimana budaya mereka dari kepengurusan sebelumnya, saya merasa kurang nyaman. Misalnya seperti budaya mereka untuk party, dan semacamnya. Jadi saya memilih menarik diri dari kegiatan mahasiswa asing. Bila kalian perempuan, mungkin harus lebih hati-hati dengan mahasiswa asing laki-laki ya, karena mereka nggak ada maksud lain kecuali untuk memacari berteman lebih dengan kalian. Kalau mau cari jodoh orang timur tengah atau afrika, ke India aja, pasti dapat. Untungnya ternyata ada organisasi LDR bernama PPI Dunia yang bisa mencurahkan produktifitas saya di sana, haha. Sebenarnya PPI India juga LDR sih karena anggotanya tersebar di state yang jaraknya sangat berjauhan. Oh iya, untuk pergaulan dengan teman sekelas, saya sih terkendala language barrier ya. Karena aksen teman-teman kelas saya sulit dipahami, haha. Tapi tenang, mereka baik-baik kok. Kuncinya, kita harus aktif bertanya, memperhatikan mimik mereka saat ngomong dengan seksama, haha. Dan kebanyakan, teman-teman kelas juga kurang mengerti dengan aksen saya. Wkwkwk, untungnya dosen pengecualian sih. Mungkin karena sekelas dosen, mereka sering keluar negeri, terpapar dengan banyak aksen, jadi aksen India mereka lebih mudah dipahami, dan pun mereka lebih mudah mengenali aksen kita.

 

 

Dinda Lisna Amilia

Pelajar S2 jurusan Mass Communication and Journalism

University of Mysore

Ketua Dewan Pengawas PPI India (17/18)

Wakil Kantor Komunikasi PPI Dunia (17/18)

 

Catch me on https://www.instagram.com/dindamilia/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*