India sukses luncurkan Satelit ke Mars, Indonesia kapan?

13838387471656337080

vs13838387121424694616

 

Secara resmi, Indonesia memulai research antariksanya sekitar 6 tahun sebelum India, dimana Indonesia membangun LAPAN pada 1963 sedangkan India memulai ISRO pada 1969. Namun track jagoan lembaga antariksa kedua negara ini sangat beda, Indonesia masih jauh tertinggal. ISRO termasuk 6 lemabaga antariksa terbesar di dunia yang memiliki kerja sama dengan 20 negara teknologi top dunia lain termasuk Rusia, Israel, Jerman, Jepang, Cina dan Amerika Serikat. Apalagi dengan suksesnya peluncuran satelit PSLV- C25 ke Mars baru-baru ini yang mencengangkan dunia sekaligus menjadikan India menjadi negara “keempat” dunia yang berhasil meluncurkan satelitnya ke planet merah setelah Amerika, Rusia, Uni Eropa. Dengan ini India juga memukul telak pesaing beratnya yaitu Cina. Karena Cina pernah mencoba pada tahun 2011 namun gagal keluar dari bumi. Lalu, apa kabar Indonesia? Apa yang menjadi masalah dengan teknologi di negara kita?

Salah satu hal yang menurut saya bisa dijadikan kambing hitam adalah pola pendidikan sains kita. Indonesia sangat kacau dengan sistem pendidikan dasarnya yang masih memaksa anak terampil dalam segala bidang, sedangkan India menerapkan pendidikan yang sangat praktis. Bahkan tidak hanya di pendidikan dasar, di pendidikan tinggi pun sistem di Indonesia masih memberikan celah untuk tidak fokus ke dalam satu bidang. Memang di India orangnya (tidak semua) pemalas, namun karena sifat pemalasnya itu,  mereka sangat praktis, ada yang bilang “function anarchy “, mereka hanya peduli dengan fokus mereka. Orang India hanya akan melakukan apa yang harus dia lakukan, dan jarang dari mereka yang suka melakukan banyak hal dalam bidang yang berbeda. Hal ini didukung oleh sistem pendidikan dan budaya mereka pula.

Anak kelas 12 SMA IPA di Indonesia harus menghafal fungsi DPR, MPR, badan-badan legistalif lain, tidak hanya negaranya sendri, juga harus mampu membandingkan dengan parlemen Rusia, Kuba, Inggris, Amerika dan Prancis. Di saat yang sama, mereka harus mampu melakukan Integral, differensial, menghitung peluang, harus lulus ujian Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Kimia Fisika, dan tidak boleh remidi pelajaran bahasa Asing seperti Bahasa Jerman atau Jepang. Belum lagi harus mengingat kronologi terjadinya peristiwa sejarah baik Indonesia dan sejarah Dunia. Kebanyakan dari mereka juga terampil bermain alat musik, pentas dipanggung, masih juga jago bermain bola, voli dan renang, juga sangat aktif berorganisasi.

Tidak berhenti sampai disitu, di bangku kuliah, mahasiswa di Indonesia disibukkan dengan organisasi sehingga mereka sering menyebut diri mereka sendiri dengan “berorganisasi sambil kuliah” bukan “kuliah sambil berorganisasi”. Bahkan tidak sedikit organisasi-organisasi tersebut tidak ada hubungannya sama sekali secara teknis dengan fokus studi akademik mereka. Ditambah lagi tidak sedikit dari mahasiswa Indonesia yang sudah berwira usaha dan mampu mencari uang saku sendiri, yang tidak sedikit kemudian dorp out karena merasa sudah sukses dengan wira usahanya, sehingga mengorbankan tugas awal mereka untuk menjadi tenaga spesialis di masa mendatang

Sepraktis apa sih pendidikan di India? Mulai dari pendidikan dasar di India, menurut aturan CBSE (seperti Diknas di Indonesia), sejak kelas  11 hingga kelas 12, anak SMA hanya blajar 5 mata peljaran, 3 wajib dan 2 pilihan, yang bermacam-macam bergantung stream mereka. Ada 3 stream umumnya, Engineering, Medical, dan Commerce. Untuk stream Engineering misal, mereka hanya diwajibkan belajar Kimia, Fisika, dan Matematika. Sedangkan 2 yang lain mereka bisa memilih, seperti biologi dan programming, atau olahraga dan gambar teknik, atau Bahasa Sansekerta dan Biologi dsb.  Jadi di kelas 11-12 tidak ada lagi Sejarah, tidak ada PKn, tidak juga Bahasa Hindi selama mereka tidak memilih pelajaran-pelajaran tersebut dalam 2 mata pelajaran yang harus mereka pilih. Karena menurut pemerintah India, pelajaran-pelajaran umum seperti itu sudah cukup sampai kelas 10. Apalagi bahasa Inggris, toh bahasa ini sudah mereka pelajari dari pertama kali mreka bisa nulis dulu.

Namun mereka betul-betul paham sampai akar-akarnya mata pelajaran fundamental sains. Jadi ketika mereka lulus SMA, kebanyakan dari mereka bisa mnyelesaikan soal mekanisme reaksi kimia organik, yang belum tentu bisa dikerjakan separuh lebih anak farmasi S1 tahun kedua di seluruh Indonesia, mereka bisa mengerjakan turunan matematika yang belum tentu bisa dikerjakan separuh lebih dari mahsiswa teknik tahun kedua di kampus-kampus  ternama di Indonesia dst. Saya diterima di jurusan Kedokteran UGM melalui jalur SNMPTN tulis (bukan bermaksud sombong, ini hanya sebagai tolak ukur saja kemampuan rata-rata mereka yang diterima di Engineering, dengan kemampuan anak didik di Indonesia yang di terima di Kedokteran UGM, jadi bukan rata-rata anak didik Indonesia), saya ingat saya waktu itu saya mampu mengerjakan hampir semua soal matematika, kimia, fisika dan biologi yang ada di soal SNMPTN. Saya merasa sangat percaya diri ketika memasuki kampus teknik di India. Tapi ternyata saya hanya bisa keringat dingin setiap hari, di hari-hari pertama belajar sains di India karena mereka ternyata sudah lebih sangat jauh berlabuh dan saya tidak mampu memahami tingakatan pemahaman mereka waktu itu. Silahkan cari banyak soal-soal tes IIT-JEE ( SNMPTNnya India stream Engineering ) di Internet, dan bandingkan dengan SNMPTN. Teman saya yang dari Dubai yang menyelesaikan kurikulum SMA dengan international baccalaureate (kurikulum yang dipakai 97 negara dunia tingakt SD, SMP, dan SMAsaja masih mengakui ketertinggalannya dengan kurikulum India dibidang sains dan teknologi.

Kemudian, ketika di jenjang Universitas, di Kampus Teknik, mereka harus belajar 190 sks, dan perlu dicatat, 145an sks yang harus di tempuh mahasuswa di kampus-kampus teknik Indonesia, masih menghitung Bahasa Indonesia, PKn, Sejarah, Pendidikan Agama dalam kredit. Sedangkan di India, 190 sks semua merupakan murni pelajaran yang berhubungan dengan core Engineering. Kehidupan keseharian mereka sangat jarang disentuh dengan bau organisasi politik dan yang tidak penting lain (relatif terhadap fokus akademik mereka). Budaya di India, kebutuhan finansial mahasiswa sepenuhnya ditanggung orang tua hingga mereka mendapat pekerjaan. Selain mereka malas, mereka dilarang keras oleh orang tua mereka untuk bekerja. Sehingga banyak dari waktu mereka yang mereka alokasikan betul-betul untuk menjadi spesialis di masa mendatang. Jadi sangat praktis, kuliah 4 tahun, akan lulus 4 tahun. Hanya 1% yang lulus lebih dari waktu ideal tersebut, dan ini merupakan hal yang dianggap sangat tabu bagi mereka.

Akan tetapi, di kampus teknik, 1 dari 100 dari mereka yang bisa main gitar atau alat musik lain, satu dari 50 yang bisa main bulu tangkis, 1 dari 50 yang bisa public speaking,  1 dari 50 yang tahu letak geografis Indonesia, 1 dari 50 dari mereka yang tahu jika indonesia sebenarnya lebih besar dari Singapore, bahakan banyak dari mereka yang menyebut Palestina ada di Eropa dst. Mereka juga kurang sopan jika dibandingkan dengan teman-teman Internasioanl yang lain. Karena pendidikan moral secara kurikulum hanya diajarkan di Primary School. Dan sejujurnya pendidikan Agama bukan merupakan mata pelajaran resmi dari pemerintah. Hanya sekolah-sekolah tertentu yang akan memberi tambahan pendidikan Agama. Mereka akan sangat membosankan jika diajak berbicara tentang hal-hal umum, hal-hal yang lagi ngetrend faktual dan aktual yang sedang berlangsung di Dunia.

Mungkin ada satu hal yang sangat membedakan masyarakat muda sains di India dan Indonesia yaitu trend. Secara kuantitas, penghabisan waktu anak muda di Indonesia masih banyak ke hal-hal yang jauh dari sains. Misal, komunitas Skateboard, muda-mudi yang suka menghabiskan waktu berduaan, grup musik band, clothing, dan sebagainya. Hal-hal ini sudah sangat menjamur kemana-mana tidak terkecuali mahasiswa-mahasiswa teknik, yang berpotensi menghabiskan waktu dan  energi mereka di luar fokus mereka. Pemuda di Indonesia sangat mudah terkena trend organisasi politik dan sebagainya. Sedangkan di India, jarang sekali ditemukan komunitas skateboard, grup musik amatiran, wirausaha clothing/distro oleh anak muda dsb. Pacaran masih dianggap sangat tabu. Berjalan berduaan disini jarang terlihat. Sebaliknya Engineering dan pendidikan di India merupakan trend hidup. Mereka berpikir hanya pendidikanlah yang akan memotong garis kemiskinan mereka. Teman saya bilang, di India hanya ada 3 jenis orang yang akan dihargai masyarakat sekitar yaitu: Pemain Cricket Nasional, Dokter, dan Insyinyur/Saintis.

Kehidupan mereka yang sangat kompetitif, pola hidup mereka praktis. Mereka tidak akan kerja di luar tugas mereka. Jika mereka dibayar untuk melakukan tugas A maka mereka hanya melakukan tugas A dan malas akan membuat sesuatu di bidang B. Berbeda dengan orang di Indonesia yang gemar menambah banyak kesibukan-kesibukan lain sesuai trend meskipun tidak sesuai dengang fokus professionalnya.

Tunggu dulu saya belum selesai, jika ada yang bilang, Indonesia juga lelet dalam hal teknologi antariksa karena korupsi. India juga negara korup di Dunia. Data dari Transparency International menyebutkan bahwa India merupakan negera yang bersih dari korupsi nomer 94 dan Indonesia berada di peringkat 118 dari 176 Negara. Ini menunjukkan India juga merupakan negara yang belum jauh dari korupsi.

Jika Indonesia memiliki Pak Habibie, India sudah dari dulu punya ratusan Habibie, namun karena ratusan itu, jadi tidak terlalu spesial dan tersebutkan satu persatu. Menurut survey Departemen Luar Neger India pada tahun 2008, 4 dari 10 saintis di NASA adalah orang India. Dan masih banyak lagi kelebihan mereka di bidang teknologi yang sudah pernah bahas di artikel sebelumnya.

India merupakan contoh/acuan bagus bagi Indonesia, bukan hanya karena memiliki kesamaan sumber peradaban dan budaya, namun juga karena disaat yang sama, India juga masih berkutat dengan permasalahan yang juga dihadapi oleh Indonesia seperti kemiskinan, populasi penduduk yang terus meningkat, sempitnya lapangan kerja, korupsi dan sebagainya namun sudah mampu terbang ke Mars.

Jadi, kapan Indonesia mampu meluncurkan satelit ke Mars? Ini semua merupakan konsekuensi dari sistem kita, sistem yang akan mempengaruhi pola perilaku setiap individu. Selama Negara masih ingin anak didik calon pengembang satelit tahu sistem kenegaraan mereka dan perbedaannya dengan negara lain, berpengetahuan luas disegala bidang, anak-anak bangsa yang tidak hanya paham teknik, namun juga paham politik, pandai berwira usaha,menembakkan satelit ke Mars masih jauh dari kemampuan kita. Akan tetapi jika kita mau berlomba secara global, mengejar teknologi India secepat mungkin, kita harus merombak sistem pendidikan kita, terutama di bidang sains, sistem yang bisa memperkuat para calon spesialis yang betul-betul ke bidang professional mereka di bidang sains.

 

Oleh: Faiz Syauqi Hidayat; B. Tech 2/4; Chemical Engineering- NIT Warangal.

One comment

  1. ,,,,,,,,,,,,,dan karena itulah begitu lulus Master dari India kepala saya jadi setengah botak ha ha ha ha ha,,,,,,,,,,salut bro tulisan nya, memang itulah fakta yg terjadi. Di kampus-kampus di Inggris pun kebanyakan dosen adalah orang India, bahkan promotor S3 sy pun berdarah India hedeeeehhh,,,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*