Estetika Ramadhan di India Tanpa Kolak Pisang

INDIA_-_ISLAM_(F)_0711_-_RamadanBulan Ramadhan adalah bulan di mana umat muslim berlomba-lomba menggoda Allah, bermesraan, dan mohon ampun dengan berbagai macam aktifitas kerohanian seperti puasa, solat malam berjamaah, mengaji Al-Quran dan sebagainya. Aktifitas-aktifitas tersebut membuat atmosfir Ramadhan dimanapun di dunia ini terutama di India begitu terasa berbeda.  Udaranya, manusianya, tempat ibadahnya, intensitas kemacetannya, intonasi klakson kendaraanya dan lain sebagainya.

Biara tentang puasa, India terdiri dari manusia-manusia yang tahu caranya menikmati ibadah puasa dalam kondisi suhu yang tidak toleran ditambah waktu siang yang lebih lama dibanding malam. Mereka menikmati putaran kencang kipas angin yang justru menyebarkan angin panas.

Siang hari Kedai-kedai buka seperti biasa, aktifitas perkuliahan bahkan ujian tetap berjalan sebagaimana biasanya; tanpa kompensasi waktu pulang lebih awal atau waktu mulai lebih siang. Hal ini sepertinya mencontoh sejarah Islam di masa lalu. Dalam sejarah Islam, kemenangan dan kejayaan Islam terjadi di bulan Ramadhan, dimana umat dalam kondisi berpuasa. Misalnya kemenangan perang badar,  perang Qadasiyah, penaklukan Andalusia dan masih banyak lagi. Itu menggambarkan bahwa seharusnya Ramadhan adalah tentang meningkatkan produktifitas, bukan meningkatnya intensitas malas.

Di Indonesia, salah satu  estetikanya Ramadhan adalah pemandangan  jejeran takjil yang dijual di sepanjang jalan. Orang Indonesia memang kreatif dalam segi apapun, bahkan dalam inovasi-inovasi  pertakjilan. Takjil di India tidak semeriah di kampung halaman, mungkin jenis-jenis kurma dari warna, tekstur, bentuk,harga yang melimpah. Tidak ada bubur sumsum, es buah, kolak pisang dan … ah, sudahlah (ditulis dalam keadaan berpuasa). Eksistensi kolak pisang dan teman-temannya menjadi unsur estetika bulan Ramadhan  yang sangat dirindukan. Tapi kesederhanaan takjil India seharusnya menjadi pelajaran. Karena tujuan berpuasa bukan hanya menjadi penikmat  variasi takjil, tapi menjadi Taqwa. Yaitu taat pada setiap aturan Allah S.W.A. dan menjadikan Allah  sebagai pertimbangan utama dalam setiap keputusan di dunia ini.

Suara azan Magrib bersahut-sahutan dari masjid sunni, masjid syi’ah,masjid dunia, dan masjid manapun.  Harmoni perbedaan waktu dan irama lantunan azan begitu menggetarkan. Yang semuanya sama-sama menyeru untuk sembahyang dan meraih kemenangan. Kemenangan akhirat yang sejati dimana dunia adalah tahap awal. Segala fenomena ramadhan begitu syahdu, dan dirindu.

Penulis: Mujahidah – Aligarh Muslim University

Editor: Fajar R

Picture credit: asianews.it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*