DO’A YANG TAK DIIMPIKAN: Kisah Nyata Pejuang Beasiswa dengan Modal Seadanya – Part 2

Bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk India, Sidharto R. Suryodipuro

Bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk India, Sidharto R. Suryodipuro

(Lanjutan dari part 1) September 2011, pasca kelulusan saya di sidang skripsi menyisakan kelegaan dan kebahagiaan dalam diri. Sebut saja perjuangan membawa CPU dan monitor tabung kesana-kemari untuk menyelesaikan penelitian tentang Pragmatics Analysis yang lumayan langka pada saat itu di perpustakaan kami, serta target menyelesaikan studi sebelum tenggat waktu pendaftaran wisuda pada bulan agustus 2011 agar bisa lolos dari pembayaran SPP di semester berikutnya. Hal-hal tersebut menyulut semangat saya semakin membara untuk lulus tepat pada waktunya. Hingga akhirnya saya lulus S1 dengan gegap gempita seraya ingin menangis sepanjang hari saja, menangis bahagia karena di pagi hari saya diwisuda, pada malam hari keponakan ketiga saya lahir dengan selamat dan sehat. Rasa haru serta syukur menyeruak di dalam keluarga besar kami. Namun hingar-bingar kebahagiaan seperti sirna bagi saya, sehari tepat setelah hari itu. Sarjana pengangguran dengan impian setinggi langit yang seperti tidak dapat melihat kenyataan. Ketakutan yang selama ini hanya bisa diangan-angan hampir saja terjadi kecuali jika saya tidak bertemu dengan ibu Ruliyati, seorang guru SMAN 1 ungaran yang mendirikan sebuah lembaga bimbingan belajar yang akhirnya membawa saya mengajar di UPTD (sekarang unit satuan pendidikan) SKB Ungaran. Sebulan pasca upacara wisuda saya pada Oktober 2011, MTs SA Manba’ul Quran (setara SMP) memanggil saya untuk mengajar bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Meski tidak langsung mendapatkan slot mata pelajaran sesuai jurusan selama belajar di kampus, saya terima tantangan ini sebagai batu loncatan sekaligus kawah Candradimuka tempat saya mengais dan mengumpulkan pengalaman serta teman sebanyak-banyaknya.

Sambil menjalani profesi sebagai seorang pendidik di beberapa lembaga pencetak generasi penerus bangsa, saya terus melayangkan tinggi mimpi-mimpi saya untuk tetap melanjutkan kuliah S2 dengan bantuan beasiswa. Dengan jerih payah itu, Alhamdulillah puji Tuhan semesta alam, saya menulis kisah hidup ini di dalam sebuah kamar hostel mewah milik EFL University di Hyderabad India persis pukul 23.00 tanggal 14 Januari 2018 setelah rapat perdana pengurus PPI India 2017-2018. Termasuk kegilaan sekaligus keajaiban yang terjadi dalam hidup saya bisa menjadi seorang koordinator sebuah organisasi besar seluruh pelajar Indonesia di India meski belum genap pula sebulan saya hidup di negeri sungai Gangga. Stamma Amin dan Endang Sartika adalah ‘oknum’ di balik semua ini. Beliau berdua adalah teman dan adik kelas selama di bangku kuliah S1, namun senior saya di India. Entah seperti apa takdir Tuhan seterusnya pasca dilantik sebagai ketua organisasi ini. Saya jalani insyaallah dengan penuh keikhlasan. Walau takut, kaget, heran, bingung, dan tidak percaya, lambat-laun pertemanan dan persaudaraan di dalam kepengurusan dan sesama anggota Diaspora PPI India menjadi obat rindu dengan hadirnya keluarga dan teman baru di rantau yang jauh dari kampung halaman.

Menjadi salah satu ICCR scholars pemerintah negara India bukanlah mimpi saya pada awalnya, saya ucapkan terimakasih yang tiada terkira berkat mentoring yang luar biasa dari ibu Sari, pak Hammam, Heru, Hasbi serta teman-teman yang mendoakan kesuksesan saya, hingga akhirnya memberangkatkan saya ke tanah Gandhi ini. Sesungguhnya melihat usia yang semakin bertambah dan mendekati angka 30, merubah arah angin yang membawa angan dan harapan saya dalam meraih mimpi. Sangat sederhana keinginan dan doa yang saya panjatkan kepada Allah SWT, yaitu harapan untuk mendapatkan beasiswa pasca sarjana di dalam negeri tercinta, sambil terus mengajar di sekolah dan menikah. Bahkan sampai terus-menerus dibantu untaian doa ibunda tercinta di setiap sepertiga malam harinya. Fakta yang harus saya pahami dan teman-teman semua ketahui adalah luar biasanya doa orang tua, terkhusus panjatan doa seorang ibu. Selama ini yang saya tahu beliau bermunajat kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk kesuksesan anaknya. Namun, siapa sangka doa ibu ternyata berbeda dengan apa yang saya ucapkan. Kekuatan doa Ibu jauh lebih mujarab dibanding siapapun di dunia. Beliau berdoa setiap malam untuk saya agar dapat sekolah di luar negeri, mendapatkan beasiswa dan kesuksesan dunia hingga akhirat. Sungguh dahsyat kalimat singkat tersebut, ternyata inilah jawaban atas segala doa dan usaha. Allah SWT lebih memilih mengabulkan doa Ibu saya, dibanding menjawab mimpi absurd seorang anak yang sangat menyayangi dan mencitai ibundanya ini.

Oleh:

Noor Sahid Kusuma Hadi Manggolo

M.A. TESL di The English and Foreign Languages University (EFLU)

Hyderabad, India

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*