DO’A YANG TAK DIIMPIKAN: Kisah Nyata Pejuang Beasiswa dengan Modal Seadanya-PART 1

IMG-20180118-WA0028

Kisah bermula, sebelumnya saya adalah seorang guru di dua sekolah swasta yang memiliki latar belakang pondok pesantren di desa Pringapus, kecamatan Bergas, kabupaten Semarang. Sebagai pengajar di sebuah yayasan pesantren untuk para penghafal al-Quran, saya harus dapat menyesuaikan diri dengan suasana dan budaya pesantren, meski Juz ‘Amma pun saya tidak hafal seluruhnya. Baik ketika saya berada di dalam kelas Sejarah Kebudayaan Islam, maupun ketika saya mengajar bahasa Inggris di Madrasah Tsanawiyah (MTs/SMP) dan di Madrasah Aliyah (MA/SMA) pada lembaga pendidikan tersebut. Hampir semua murid di sekolah merupakan santri penghafal al-Quran di pondok pesantren tempat sekolah mereka bernaung. Meskipun saya sama sekali tidak pernah mengenyam dampar pesantren, sedikit-sedikit saya pernah belajar atau mengaji kitab kuning dari ustadz yang diundang almarhum abah saya ke rumah ketika saya masih kecil. Sehingga tiba saat dihadapkan pada situasi, persoalan, serta kondisi sosial yang dialami para santri di kelas pagi, paling tidak saya dapat memahami suasana dan keadaan psikis sekaligus mental siswa saya. Sempat terbersit sedikit penyesalan dan pertanyaan mengapa saya bisa mengajar di sekolah ini. Dengan segala keterbatasan yang saya miliki, sungguh di luar akal sadar saya dapat membimbing atau lebih tepatnya belajar besama siswa-siswi yang berilmu jauh lebih luas dari pada saya, terutama dalam pemahaman ilmu agama.

Selain harus menjadi ustadz yang mengajarkan bahasa Inggris kepada para santri, saya juga memiliki kewajiban membimbing peserta didik saya dari kalangan masyarakat umum dalam mengaplikasikan bahasa asing ini di dalam kehidupan nyata. Unit satuan pendidikan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Ungaran di kabupaten Semarang merupakan tempat warga negara Indonesia yang tidak memiliki kesempatan belajar seperti siswa pada umumnya, untuk menuntut ilmu serta pengalaman dengan didukung oleh fasilitas-fasilitas negara. SKB ini meliputi Pendidikan Non-Formal dan Informal (PNFI), diantaranya adalah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Kejar Paket A (setara SD), Kejar Paket B (setara SMP), Kejar Paket C (Setara SMA), keterampilan vokasi, kursus, dan pelatihan-pelatihan untuk masyarakat. Tugas saya adalah berhadapan dengan peserta didik pada jenjang kejar paket B dan C. Asal-usul dan latar belakang siswa saya sangat beragam, mulai dari pengangguran, pengamen, asisten rumah tangga, buruh, bahkan pegawai negeri sipil. Motif dan tujuan belajar mereka pun juga bermacam-macam. Ada yang ingin melanjutkan studi, menaikkan pangkat, mendapatkan pengakuan negara, meningkatkan kualifikasi pendidikan, bahkan ada juga alasan mereka belajar bahasa asing agar dapat berkomunikasi dengan bos bule mereka di pabrik.

Perjalanan karir yang menurut saya lumayan panjang ini saya lalui selama kurang lebih 6 tahun. Tepat setelah saya lulus Strata 1 pada bulan September tahun 2011 hingga saya memutuskan untuk beristirahat sejenak dari tugas mulia tersebut pasca hari raya Idul Fitri tahun 2017. Banyak sekali suka, duka, teman, pengalaman serta pencerahan dari kawan sesama pengajar bahkan dari pelajar. Sesungguhnya selama saya mendarmabaktikan ilmu dan kemampuan saya di sekolah, saya masih menyimpan mimpi besar untuk dapat melanjutkan studi S2 dengan mendapatkan beasiswa. Perjuangan untuk mendapatkan beasiswa belajar saya mulai bahkan saat masih berada di bangku kuliah S1 hingga beberapa tahun berlalu. Mulai dari mendaftar beasiswa short course di Amerika dan Australia, beasiswa salah satu kementerian di Indonesia, beasiswa pemerintah negara sahabat, hingga beasiswa pemerintah negara India (ICCR). Bersyukur amat luar biasa saya haturkan kepada Allah SWT. akan jalan takdir yang Ia rencanakan sungguh di luar pemikiran dan perkiraan saya. Congkaknya saya ketika merasa tidak ada seorangpun yang mampu memahami kemampuan dan potensi saya, kecuali saya sendiri. Perjuangan mengikuti edu fair di sana-sini, apply beasiswa dari USA sampai Turki, tes seleksi dan wawancara yang tidak hanya ditolak sekali, bahkan hampir pupus sudah harapan saya untuk dapat melanjutkan studi. Namun Allah-lah Tuhan semesta alam yang mampu memahami kemampuan dan potensi seseorang jauh melebihi siapapun, Dia-lah Sang Azza Wajalla penulis skenario terbaik dari yang terbaik.

Flashback beberapa tahun ke belakang mengingat pahit-manisnya perjalanan hidup ini. Motivasi dari dalam diri (intrinsic) serta dari teman-teman (extrinsic) yang akhirnya tetap memberikan saya sisa-sisa kekuatan dan harapan untuk terus berusaha meraih takdir Tuhan yang Dia hendaki. Keinginan yang membuncah untuk dapat melanjutkan kuliah strata 2 dengan meraih bantuan biaya adalah self-motivation saya semenjak abah tercinta, sumber keuangan utama keluarga kami, dipanggil sang Maha Pencipta semasa saya masih berkutat dengan ujian mid-semester yang pertama kali saya ikuti di bangku kuliah S1 Tadris Pendidikan Bahasa Inggris STAIN Salatiga (sekarang IAIN Salatiga). Musibah atau berkah, sedih atau bangga, cemburu dengan apa yang saya dapatkan dari seorang ayah yang sudah lama sakit-sakitan, sungguh berbeda dengan apa yang kakak-kakak saya terima dalam hidup mereka. Segala urusan teratasi dengan mudah dan hidup serba ada, tidak saya dapatkan dari keluarga ini. Ataukah rasa syukur yang luar biasa karena kekuatan untuk dapat bertahan hidup serta berjuang mendapatkan mimpi dari berbagai kekurangan ini berjalan dengan indah di tangan Allah. Perlahan sedikit saya pahami betapa besarnya cinta Tuhan. Pada saat banyak teman menikmati masa muda mereka untuk belajar dengan segala fasilitas dan kemampuan terbaik mereka, selepas kuliah mereka pergi ke perpustakaan dan belajar bersama teman-teman yang lain. Sedangkan saya memilih untuk mengajar ekstrakurikuler pramuka di sekolah-sekolah sekitar kampus, selain untuk mengamalkan ilmu dan pengalaman selama berorganisasi dan berlatih di kepramukaan, uang bantuan operasional dari mereka sedikit-banyak dapat membantu membiayai kebutuhan-kebutuhan saya, sampai akhirnya 3 tahun S1 saya jalani dengan IPK yang tidak terlalu istimewa, namun saya kira tidak cukup mengecewakan.

Berjalannya waktu, di tahun terakhir pendidikan undergraduate saya, teman dan sahabat semakin bertambah. Meski tidak secara langsung memberikan semangat secara nyata, namun berproses di samping mereka menjadi saat-saat saya belajar dari berbagai cerita hidup dan pencapaian mimpi mereka. Sepulang kuliah di saat saya berkutat dengan mengatur anak berlatih baris-berbaris, tepuk-tepuk, dan bernyanyi. Kawan-kawan disibukkan dengan memandangi layar komputer di warnet gratis kampus untuk mencari bahan tambahan kuliah, data-data untuk penelitian skripsi serta informasi-informasi penting. Tak ayal, kini mereka telah menjadi orang-orang sukses dan berhasil melanjutkan serta menyelesaikan studi S2 dan S3 dari berbagai universitas-universitas terbaik di dunia, sebut saja University of Georgia, Monash University, The English and Foreign Languages Univeristy, University of Manchester, dan universitas-universitas terpandang lainnya di Indonesia. Menjadi satu dari bagian mereka merupakan sebuah kebanggaan, kehormatan, dan kebahagiaan. Banyak bapak-ibu dosen bercerita kepada junior kami tentang pencapaian dan prestasi mereka dalam membawa mahasiswa-mahasiswa di tahun angkatan kelulusan 2011 menjadi yang terbaik sepanjang jurusan kami di kampus. (bersambung ke part 2)

 

Oleh:

Noor Sahid Kusuma Hadi Manggolo

M.A. TESL di The English and Foreign Languages University (EFLU)

Hyderabad, India

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*