Belajar Membangun Pasar Petani dari Pemerintah India

Belajar Membangun Pasar Petani dari Pemerintah  Andhra Pradesh India

Oleh :

Jaenal Abidin

India memiliki banyak pengalaman dalam  menginsiatifi dan mengimplementasikan  kebijakan yang pro rakyat.  Hal tersebut dimungkinkan dengan sistem federalisme dan dimungkinkannya partai lokal tumbuh dan berkembang di setiap negar bagian.  Dalam kesempatan ini kita akan melihat lebih jauh sebuah insiatif kebijakan pro rakyat di negara bagian Andhra Pradesh. Dibawah kepemimpinan Chief Minister  N. Chandrababu Naidu pada tahun 1999 menginsiatifi terbentuknya Rythu Bazar (Pasar Petani).  

 

Sebenarnya Rythu Bazar bukan konsep asli dari Chief Minister, tetapi merupakan pengalaman M.S.Gill pada saat menjadi sekretaris departemen pertanian pemerintahan pusat India. Ia mengunjungi Unisovyet pada tahun 1975 dan menyempatkan diri untuk melihat “Khal Ghoj” atau disebut juga pasar petani disana. Petani secara langsung menjual hasil pertaniannya yang masih segar dan hijau di pasar tersebut kepada konsumen dengan harga yang cukup baik bagi petani. Setelah diteliti lebih jauh pasar yang dibangun atas dasar kolektifisme tersebut berusaha untuk menghilangkan peran tengkulak dan agen dalam rantai perdagangan sayur mayur. Petani tidak perlu membayar dan berbagi fee kepada agen tetapi langsung menjual hasil panennya. ke pasar, sehingga mendapatkan keuntungan yang maksimal. Dilain pihak konsumen juga merasa puas dengan kondisi sayur mayur yang masih segar dan harga yang lebih murah dari pasar biasa[1]. Kemudian konsep tersebut diimpelementasikan di dua negara bagian  Punjab dan Haryana yang terkenal dengan nama “Apna Mandis”. Andhra Pradesh kemudian mengikuti konsep pasar tersebut dan memberi nama pasar petani tersebut dengan Rythu Bazaar. Sedangkan Tamil Nadu dibawah kepemimpinan Chief Minister Karunanidhi juga ikut mengimplementasikan konsep pasar petani dengan mengistilahkannya dengan Uzhavar Shandhaies.

 

Jadi pembahasan kita tentang Rythu Bazaar di Andhra Pradesh adalah sebagian keberhasilan negara bagian di India dalam mengimplementasikan konsep pasar petani. Rythu Bazar, istilah ini merupakan berasal dari bahasa Telegu  yang dipakai sebagai bahasa lokal di negara bagian Andhra Pradesh. Rythu berarti petani dan Bazar adalah pasar. Tujuan utama diadakannya pasar petani  ini adalah untuk membantu petani untuk membawa dan menjual hasil panen mereka secara efektif dengan menghilangkan peranan perantara atau agen dalam pemasaran.  Sehingga pasar ini memastikan mendapatkan harga jual yang menguntungkan. Selain itu pasar ini menjamin tidak adanya penipuan dalam penimbangan. Bagi konsumen pasar ini menyediakan produk-produk segar kepada konsumen dengan harga yang wajar. Sekaligus menjadi pusat pengendalian harga yang efektif oleh pemerintah.

 

Perlu diketahui bahwa Andhra Pradesh adalah negara bagian kedua terbesar penghasil sayur mayur dan buah-buahan di India sebesar 8% total produksi seluruh India (yang pertama adalah West Bengal dengan 10% total produksi seluruh India atau sebanding dengan 27.000 ton per tahun)[2].  Hasil produk hortikultura tersebut terutama : mangga , pisang, jambu mente, sapota, jambu biji, dan delima. Untuk jenis sayuran : Terung, Lady fingers, bawang, wortel, tomat, buncis dan labu. Pasar regular di Andhra Pradesh hanya berfungsi di pusat-pusat kota . Sehingga pemasaran produk hortikultura dikuasai oleh para tengkulak dan agen. Peranan agen dan perantara yang dominan menyebabkan terjadinya eksploitasi baik di tingkat petani maupun konsumen. Tindakan malpraktek  juga kerap terjadi terutama dalam soal timbangan, pengangkutan dan pembayaran . Petani juga tidak memiliki  daya untuk melakukan tawar menawar dengan agen karena panjangnya rantai pemasaran. Rantai pemasaran yang panjang menyebabkan harga jual pada konsumen juga mahal . Untuk mengatasi masalah dibentuklah Rythu Bazar yang merupakan starategi alternative dalam pemasaran yang ditanggungjawabi oleh pemerintah di tingkat distrik.

 

Lokasi Rythu Bazaar berada di lahan pemerintah yang telah diidentifikasi oleh pemerintah lokal/distrik. Berjualan di lahan pemerintah akan menghindarkan petani dari intimidasi atau ancaman dari berbagai pihak terutama para agen yang terimbas karena hadirnya Rythu Bazar. Lokasi yang dipilih tentunya yang nyaman bagi petani dan juga para konsumen. Pemerintah mengusahakan lokasi tersebut sekurang-kurangnya seluas satu hektar. Rythu Bazar memfasilitasi 10 sampai 15 desa atau sebanding yang didalamnya terdapat  250 petani sayuran dan buah-buahan atau setara dengan 10 kelompok tani di daerah tersebut.

 

Pada lokasi Rythu Bazaar pemerintah mempersiapkan infrastruktur semi permanen yang dapat melindungi dari panas dan hujan untuk petani dapat memasarkan produknya. Selain itu tempat parker bagi konsumen, toilet, tempat pembuangan  sampah dan juga tempat penyimpanan produk yang  tidak terjual juga dilengkapi di area Rythu Bazar. Pemerintah juga menyediakan timbangan dengan takaran yang benar kepada semua petani yang berdagang.

 

LANGKAH-LANGKAH MENGIDENTIFIKASI PETANI

Pemerintah di tingkat distrik membentuk sebuah tim yang terdiri dari dinas pendapatan , dinas hortikultura dan petugas pertanian lapangan. Langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan pemetaan terhada desa yang memang masyarakatnya adalah petani sayuran dan buah-buahan. Langkah berikutnya tim pemerintah tersebut melakukan sosialisasi tentang pentingya Rythu Bazar bagi petani . Sosialisasi yang dilakukan dalam bentuk pertemuan tersebut juga mensosialisasikan bantuan bagi petani bagi yang ikut dalam program Rythu Bazar yaitu : penyediaan benih dengan harga subsidi untuk petani,  diberikan penyuluhan tentang bagaimana meningkatkan produksi pertanian, pemerintah akan memfasilitasi transportasi untuk mengangkut hasil pertanian ke pasar,   pemeritah akan menjanjikan mekanisme harga yang menguntungkan petani, serta menghilangkan mekanisme perantara dalam pemasaran produk mereka.

 

Langkah ketiga, tim tersebut memverifikasi masing-masing lahan pertanian milik petani dan kemudian memberikan kartu identitas sementara kepada petani, yang kemudian setelah seminggu dengan menyerahkan pas photo kartu tersebut akan diganti dengan kartu identitas permanen . Adapun identitas tersebut berisi rincian : Nama Petani, Alamat, Luas Lahan, Jenis sayuran atau buah-buahan yang ditanam,nama kelompok tani dan foto. Kartu identitas ini berlaku selama 6 bualan dan setelahnya harus diperpanjang.

 

Langkah keempat, petani dibuat menjadi berkelompok berdasar pilihan mereka dan kemudian melakukan pembagian tugas dan rotasi bagi setiap anggota kelompok untuk berjualan nantinya di Rythu Bazaar

 

PEMBAGIAN TEMPAT BERJUALAN  DI RYTHU BAZAAR

HAnya petani dan kelompok petani yang diizinkan berjualan di Rythu Bazaar. Pembagian tempat dilakukan perhari berdasarkan prinsip First Come First Serve. Artinya kelompok yang mana lebih dulu datang membawa produknya, maka ia yang pertama mendapat tempat berjualan. Selain itu prinsip rotasi dalam penjatahan tempat berjualan juga diberlakukan . Tidak ada yang diizinkan menempati tempat berjualan yang sama secara terus menerus. Petani tidak diperkenankan untuk menduduki tempat berjualan dengan  cara menjaga sayuran di waktu malam hari .

 

PENENTUAN HARGA

Penentuan harga dilakukan secara bersama antara komite petani dan pemerintah di tingkat distrik. Logika dalam penentuan harga di Rythu Bazaar berdasarkan prinsip: tidak lebih tinggi dari harga pasar lokal, karena kalau lebih tinggi maka konsumen tidak merasakan manfaat hadirnya Rythu Bazar. Dilain pihak, apabila harga lebih rendah dari harga grosir maka petani tidak akan mendapatkan insentif yang cukup. Oleh karena itu secara umum harga produk pertanian di Rythu Bazar berada 25% diatas harga grosir tetapi lebih rendah 25% dari harga pasar tradisional biasa.

Dinas Pasar secara rutin dan berkala menginformasikan  kepada pengelola pasar Rythu Bazar  tentang harga di tingkat grosir maupun eceran, sehingga akan membantu  penetapan harga yang selalu  up to date di Rythu Bazar. Saat ini, informasi  harga pasaran ini juga menggunakan sistem internet yang selalu online dalam memberitakan harga pasaran. Sehingga keakuratan harga di Rythu Bazar dapat terjamin. Untuk fasilitas internet ini pemerintah Andra Pradesh membuat website khusus untuk Rythu Bazar http://www.rythubazars.com/HomePage.aspx. Segala informasi tentang harga di Rythu Bazar dapat diakses oleh konsumen maupun petani di website ini.

 

Penjualan Kebutuhan Pokok

Selain menjual produk hortikultura Rythu Bazar juga dibenarkan untuk menjual kebutuhan pokok seperti beras, minyak makan, gas dsb. Selain itu juga  bisa menjual jenis sayur-sayuran yang tidak di tanam petani pada daerah distrik tempat Rythu Bazaar berada. TetapI penjualan kebutuhan pokok dan sayuran yang tidak ada di distrik tersebut tidak diserahkan kepada kelompok petani yang berjualan di Rythu Bazaar. Self Help Group (SHG) atau kelompok swadaya mandiri (KSM)[3] yang menangani penjualan kebutuhan tersebut.  Pemerintah memberikan mereka modal atau kebutuhan pokok untuk dijual di Rythu Bazar dengan keuntungan yang minimum. Keuntungan penjualan tersebut dipergunakan untuk menumbuhkan koperasi simpan pinjam mereka sekaligus meningkatkan kesejahteraan anggota KSM.

 

Tantangan Rythu Bazar

Terdapat berbagai persoalan teknis di lapangan terhadap praktek Rythu Bazar.  Sebut saja, Rythu Bazar menimbulkan konflik antara kelompok tani ketika berebutan untuk mendapatkan tempat berjualan yang strategis di dalam pasar. Terkadang konflik ini mengganggu aktivitas jual beli di pasar. Kemudian Kelompok Swadaya Mandiri (KSM) juga  merasa dinomorduakan karena pasar tersebut lebih fokus pada pemberdayaan kelompok tani. Selain itu konsumen melakukan complain terhadap manajemen penanggulangan samapah yang ada di pasar. Kemudian tempat parkir yang kurang di lokasi pasar.

Pemeritah mengtsi berbagai konflik antar kelompok petani dengan memberikan penyuluhan dan memberikan arahan tentang guidance kepada setiap kelompok tani. Untuk lahan parkir pemerintah menggandeng pihak swasta untuk mendirikan infrastruktur perparkiran sekaligus pengelolaan. Membangun kesadaran  petani untuk menjaga kebersihan pasar adalah hal yang penting bagi kenyamanan konsumen.

 

PENUTUP

Model Rythu Bazaar ini telah diterapkan lebih dari empatbelas tahun oleh negara bagian Andhra Pradesh.  Ini dianggap sebagai model yang sukses sebagai solusi untuk meningkatkan harkat dan martabat petani. Dilain sisi, juga dapat memuaskan konsumen terhdap barang yang dijual maupun harga yang ditetapkan dalam pasar tersebut. . Pertanyaanya apakah  ada pemerintah daerah di Indonesia yang menerapkan sistem seperti ini di Indonesia ? Sebagai satu solusi di tengah ketidak berpihakan pasar kepada petani.

 

 

 [1]Ahmed Salma and Dey Subhendu, Comparative study of preference of consumers of Supermarkets and Rythu Bazaar-the farmers’ market of Andhra Pradesh, International Journal of Engineering and Management, VOL.3(3) 2012 p. 274

 

[2] The Economist Times, West Bengal incurs post-harvest fruit & veggie losses worth over Rs 13000 crore annually: ASSOCHAM,Aug 23 6, 2013

 

[3] Kelompok Swadaya mandiri merupakan kelompok pada tingkat desa yang terdiri dari 10-20 orang yang biasanya beranggotakan kaum perempuan. Kegiatan kelompok ini membuat sistem simpan pinjam kepada anggotanya. Pemerintah kerap menyalurkan kredit mikro melalui kelompok ini.

 

Referensi :

  1.  One World Foundation of India, Direct Agricultural Marketing, Rythu Bazar in Andhra Pradesh, India, September 2011
  2.  Kusum Jain, Direct Marketing, Directorate of Extension Education CCS Haryana Agricultural University Hisar–125 004, India
  3. M.B. Datagiri, Innovative Models in Horticulture Marketing in India, National Centre for Agricultural Economics and Policy Research  New Delhi 110 012 –   
  4. Ahmed Salma and Dey Subhendu, Comparative study of preference of consumers of Supermarkets and Rythu Bazaar-the farmers’ market of Andhra Pradesh, International Journal of Engineering and Management, VOL.3(3) 2012
  5. The Economist Times, West Bengal incurs post-harvest fruit & veggie losses worth over Rs 13000 crore annually: ASSOCHAM,Aug 23 6, 2013

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*