Alunan Syahdu Gamolan Di Bumi Tapis Berseri

Tik..tik..tik…ciri khas suara yang berasal dari lempeng bambu yang dipukul. Alunan alat musik tradisional Lampung bernama Gamolan itu membuat syahdu perasaan bagi yang mendengarkan maupun yang memainkannya. Gamolan merupakan alat musik tradisional Lampung yang dipengaruhi oleh budaya bangsa India dan Cina. Merujuk pada literatur sejarah yang ditulis oleh Prof. Margaret J. Kartomi dalam bukunya Musical Instruments of Indonesia (1985), alat musik ini diperkirakan telah ada sejak zaman Megalitikum pada abad ± 4 Masehi,

Gamolan merupakan representasi dari masyarakat yang agraris. Pertanian dan alam pegunungan menjadi ciri utama masyarakat Lampung pada masa lampau yang menjadi bekal kehidupan bagi kelangsungan anak cucu mereka. Alat musik yang berasal dari Lampung Barat ini, memiliki delapan lempengan bambu yang diikat bersambungan dengan tali rotan yang disusupkan melalui lubang yang ada disetiap lempengan dan simpul di bagian teratas lempengan, penyangga yang tergantung bebas diatas wadah kayu memberikan resonansi ketika lempengan bambunya dipukul sepasang tongkat kayu. Gamolan memiliki laras pelog dengan nada 1-2-3-5-6-7-i dan kisaran nada lebih dari satu oktaf.

Awalnya pada zaman Hindu dimana banyak bangsa India yang singgah, gamolan disebut “gamel” yang dalam bahasa Sansekerta berarti “pukul”, hanya berupa sebuah bambu bulat yang digunakan sebagai kentongan, fungsinya untuk mengumpulkan warga apabila ada informasi yang hendak disampaikan atau sebagai tanda pemberi tahuan akan suatu bahaya. Namun, ketika bangsa Cina masuk ke tanah Lampung dengan membawa kebudayaan bambu, sebuah bambu bulat tersebut diubah menjadi alat musik yang disebut “gamol” yang berarti “berkumpul”. Istilah inilah yang melahirkan awal penyebutan alat musik sederhana tersebut menjadi gamolan sampai saat ini.

Gamolan diperkirakan telah lebih dahulu ada sebelum gamelan. Hal ini mengacu pada teori yang dikemukakan oleh H Stewart bahwa “hal yang relatif sederhana adalah merupakan peradaban awal dan permulaan dari pengembangan hal yang lebih rumit dan kompleks”. Pernyataan tersebut diperkuat dengan rangkaian pahatan yang terukir secara apik pada dinding Candi Borobudur di lantai dasar. Pada pahatan tersebut, diilustrasikan seseorang tengah memainkan gamolan.

article1

Gambar Gamolan terukir di Candi Borobudur

Dalam perjalanannya, gamolan – sebagai alat musik yang merakyat- sempat mengalami periode keemasan di hati para penikmatnya, terutama pada tahun 1960 saat radio dan televisi masih menjadi barang langka , serta jalanan beraspal belum paripurna dibangun . Kini, gamolan lebih banyak digunakan sebagai musik tunggal, ansambel, instrumentalia, dan musik pengiring tari maupun pengiring vokal dalam pertunjukan lantunan pantun Lampung, seperti ; hahiwang, bebandung, pepacukh, dan muwayak.

 article2

Gamolan Alat Musik Tradisional Lampung

Seiring perkembangan zaman, gamolan semakin berkembang pula fungsinya. Tidak hanya sebagai sarana hiburan, upacara adat, komunikasi, dan sarana suara kebudayaan, gamolan juga berfungsi sebagai sarana industri dan lain-lain. Tak jarang, gamolan turut pula dipadukan dengan alat musik tradisional lainnya seperti kolintang, gong, dan juga alat musik modern seperti gitar, keyboard, dan lain-lain.

Senada dengan perkembangan khasanah keragaman budaya di tanah Lampung yang dijuluki “Bumi Tapis Berseri”, usaha mempertahankan eksistensi gamolan di tengah masyarakat makin digalakkan. Bentuk kegiatan pelestarian alat musik tradisional Lampung yang merdu ini meliputi workshop, konser, pembelajaran pada mata pelajaran seni budaya di sekolah-sekolah, maupun di jurusan kesenian di dalam dan luar daerah Lampung. Masih banyak bentuk kegiatan lainnya yang dilakukan oleh para penggerak kebudayaan guna melestarikan gamolan melalui pengenalan alat musik tersebut. Berharap, kelak gamolan yang menghasilkan alunan syahdu ini dapat menjadi salah satu ikon di Bumi Tapis Berseri yang mendunia. (Gita Shervina)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*